Training Franchise : Pentingnya Mempersiapkan Training Bagi Franchisee

April 8, 2013

Training atau pelatihan merupakan salah satu kegiatan yang perlu dilakukan oleh franchisor untuk membantu franchisee-nya agar lebih sukses. Dalam melakukan training tidak cukup hanya dengan melakukan sekali atau dua kali training. Hal ini sangat masuk akal mengingat ilmu dan pengalaman bisnis yang harus ditransfer dari franchisor ke franchisee sangat banyak terutama franchisor yang telah berpengalaman sukses bertahun-tahun.

Training Franchise

Kegiatan pelatihan yang diberikan oleh franchisor kepada franchisee nya sebaiknya terdiri dari 5 jenis, yaitu:

  • Initial training

Initial training atau pelatihan awal merupakan pelatihan yang diberikan oleh franchisor kepada franchisee-nya yang baru. Initial training ini biasanya berisi tentang informasi mengenai perusahaan franchisor, informasi mengenai produk, penjelasan mengenai Standard Operating Procedure (SOP) di outlet, serta tata cara melakukan kegiatan pemasaran, operasional dan administrasi di outlet milik franchisee. Umumnya initial training ini tidak dikenakan biaya kepada franchisee, karena sudah dihitung dari besaran franchise fee yang dibayarkan oleh franchisee diawal kerjasama.

  • Refresher training

Refresher training atau pelatihan penyegaran biasanya dilakukan secara berkala, bisa dibuat 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali. Refresher training ini bertujuan untuk mengingatkan kembali karyawan dari outlet franchisee mengenai SOP yang dimiliki oleh perusahaan. Sebaiknya training ini diwajibkan bagi karyawan franchisee untuk menjaga mutu serta menyamakan pelayanan yang diberikan di setiap outlet franchisee. Biaya refresher training ini biasanya dibebankan kepada franchisee, namun hal ini bukan suatu ketentuan, karena biasa saja franchisor mengratiskan biaya training ini sebagai bentuk dukungan franchisor kepada outlet franchisee.

  • New product training

New product training atau pelatihan produk baru biasanya dilakukan sebagai bentuk sosialisasi dari franchisor kepada franchisee mengenai produk baru yang akan dijual di outlet. Pelatihan ini biasanya bebas biaya dan wajib diikuti oleh semua franchisee.

  • Replacement training

Replacement training atau pelatihan pengganti biasanya dilakukan apabila ada pergantian karyawan di outlet franchisee. Replacement training ini wajib diikuti oleh karyawan baru yang akan bekerja di outlet franchisee. Replacement  training ini dapat dikenakan biaya tambahan oleh franchisor, namun kadang karyawan baru pengganti ini tidak perlu diikutkan pada replacement training dengan syarat karyawan lama yang akan digantikan tempatnya harus mengajari karyawan baru penggantinya terlebih dahulu dalam jangka waktu tertentu.

  • Training by request

Training by request atau pelatihan berdasarkan permintaan merupakan pelatihan yang dilakukan berdasarkan permintaan dari franchisee. Biaya pelatihan ini umumnya dibebankan kepada franchisee. Franchisor akan menyiapkan tempat, materi dan pengajar yang akan melakukan training.

Training yang perlu dilakukan oleh franchisor, memang tidak sedikit dan perlu dilakukan berulangkali. Hal ini bertujuan untuk transfer knowledge dari franchisor yang telah berpengalaman (mastery) di bidang usahanya kepada franchisee atau karyawan franchisee agar dapat meraih sukses seperti franchisornya. Jadi, apabila ada bisnis franchise yang hanya memberikan 1 kali training diawal selama durasi 2 minggu atau bahkan 1 bulan lalu franchisee nya dilepas untuk berbisnis sendiri, rasanya sangat mustahil franchisee tersebut bisa meraih sukses seperti yang diraih franchisor. Malah yang terjadi, franchisee harus berusaha dan berjuang sendiri tanpa bantuan, tanpa arahan dan bimbingan untuk mencari cara membuat bisnisnya sukses.

Oleh karena itu, penting bagi pengusaha yang ingin menjadi franchisor untuk menyiapkan pola training, modul training, tempat training dan segala hal yang dapat menunjang program training yang berkelanjutan untuk menciptakan franchisee yang sukses. Karena franchisee yang sukses akan membuat brand Anda sebagai franchisor semakin berkibar lagi, tidak hanya di dalam negeri mungkin hingga mancanegara.

Salam Franchise,

 
 
Wahdi Fakhrozy
wahdifakhrozy@franchiseorganizer.com
International Franchise Business Management
 Menara Kadin Indonesia
Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3

Jakarta

Periode Hubungan Antara Franchisor dan Franchisee

March 28, 2013

Dalam masa kerja sama franchise umumnya terjadi pasang surut hubungan antara franchisee dan franchisor. Kadang hubungan terasa sangat dekat, kadang malah sebaliknya, hubungan keduanya seperti menjauh dan menjurus ke arah perpecahan terutama seiring lamanya waktu hubungan antar keduanya. Periode hubungan antara franchisee dan franchisor dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Periode Franchise 

Periode hubungan antara franchisee dan franchisor dimulai awal terjalin kerjasama yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian franchise. Periode hubungan antara franchisee dan franchisor dapat dilihat sebagai berikut

  • Masa Saling Tertarik

Masa saling tertarik ini biasanya terjadi pada awal kerjasama terjalin sampai dengan 1 tahun pertama. Pada masa ini ditandai dengan perhatian penuh yang diberikan franchisor kepada franchisee. Biasanya franchisor memperlakukan franchisee secara istimewa. Demikian juga dengan franchisee, merasa mendapat perhatian penuh serta perlakuan istimewa, franchisee akan berusaha menjalankan bisnisnya sebaik mungkin. Sehingga hubungan antara franchisee dan franchisor akan terlihat sangat harmonis.

  • Masa Saling Menyadari Dunia Nyata

Masa saling menyadari dunia nyata ini biasanya terjadi setelah masa saling tertarik, biasanya ditandai dengan bertambahnya kesibukan dari masing-masing pihak, baik franchisee maupun franchisor. Akibatnya jalinan komunikasi antar keduanya tidak se-intens seperti ketika awal-awal kerjasama. Pada masa ini biasanya mulai terjadi konflik antara franchisee dan franchisor. Konflik yang terjadi bisa dimulai dari franchisee atau franchisor sendiri. Misalnya masalah pembayaran royalty terlambat dari franchisee, masalah dukungan pemasaran dan branding yang dirasa kurang dari franchisor atau masalah-masalah lain yang berpotensi untuk menjadi besar.

Pada situasi ini, franchisor dan franchisee perlu mengevaluasi kembali alasan awal ketika membuat kerjasama. Tujuannya agar saling instrospeksi dalam memperbaiki hubungan.

  • Masa Menarik Diri

Masa menarik diri ini biasanya terjadi setelah munculnya konflik antara franchisee dan franchisor. Pada masa inilah biasanya terjadi introspeksi kedua belah pihak. Pada masa ini franchisee biasanya mulai memikirkan ulang kerjasamanya dengan franchisor, dengan pengetahuan dan pengalaman selama ini, franchisee mulai merasa bahwa tanpa keberadaan franchisor sekalipun bisnis tetap dapat berjalan baik, sehingga franchisee mulai berpikir untuk memutuskan kerjasamanya dengan franchisee.

Sebaliknya, franchisor juga mulai memikirkan ulang kerjasamanya dengan franchisee, dengan semakin membesarnya bisnis franchise yang dimiliki serta semakin kuatnya brand, franchisor mulai merasa bahwa kehilangan satu franchisee tidak akan mempengaruhi bisnis franchise secara keseluruhan. Sehingga franchisor mulai berpikir untuk memutuskan kerjasamanya dengan franchisee.

Pada masa inilah titik kritis hubungan franchisee dan franchisor terjadi.

  • Masa Pendewasaan

Masa pendewasaan ini merupakan periode selanjutnya setelah periode menarik diri. Penanganan dan penyelesaian masalah yang diambil pada saat kondisi kritis hubungan franchisee dan franchisor menjadi penentu di masa pendewasaan ini. Penyelesaian masalah yang damai tentunya menjadi harapan masing-masing pihak. Oleh karena itu, biasanya pada masa pendewasaan ini baik franchisee maupun franchisor dapat berpikir ulang mengenai konflik yang terjadi, bagaimana awal mula permasalahan, apa yang diinginkan masing-masing pihak, apa yang dapat diberikan masing-masing pihak untuk penyelesaian masalah hingga apa konsekuensi yang harus ditanggung masing-masing pihak apabila kerjasama harus berakhir.

Apabila jalan penyelesaian masalah yang diambil adalah dengan memutuskan kerjasama franchise yang telah dijalin, maka kedua belah pihak harus mengacu pada perjanjian franchise yang ditandatangani di awal mengenai mekanisme pemutusan kerjasama.

Namun langkah pemutusan kerjasama sebaiknya diambil hanya sebagai langkah terakhir, penyelesaian dengan cara damai dan tetap melanjutkan kerjasama hingga akhir masa perjanjian adalah solusi penyelesaian yang terbaik. Karena bagaimanapun franchisor bisa menjadi perusahaan franchise yang besar pasti berkat peran serta franchisee-nya. Begitu juga bagi franchisee, franchisee bisa memiliki usaha yang bagus tanpa bersusah payah merintis dari awal tentunya berkat bantuan dan bimbingan dari franchisor.

Oleh karena itu, apabila franchisee dan franchisor memahami peran serta masing-masing pihak dalam membesarkan bisnis franchise ini, maka sinergi dapat terus terjadi diantara kedua belah pihak. Selamat berbisnis Franchise :)

Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai franchise silahkan email ke franchiseconsultant@ifbm.co.id

Salam Franchise,

Wahdi Fakhrozy
wahdifakhrozy@franchiseorganizer.com
International Franchise Business Management
 Menara Kadin Indonesia
Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3
Jakarta
 
 
 

Membangun Bisnis Franchise Ritel Sukses seperti Alfamart dan Indomaret

March 20, 2013

Brand seperti Alfamart dan Indomaret merupakan brand besar di industri ritel di Indonesia saat ini. Namun untuk mencapai kesuksesan itu  bukanlah pekerjaan mudah, tentunya membutuhkan persiapan yang matang. Pada dasarnya ada 3 persiapan besar perlu dilakukan untuk menjadi perusahaan franchise yang sukses seperti Alfamart dan Indomaret, yaitu:

Kunci Sukses Franchise

Konsep bisnis, yang kuat dengan berusaha membangun toko ritel sedekat mungkin dengan pemukiman masyarakat merupakan salah satu kunci sebagai pelaku dalam industri ritel. Selain itu konsep memodernisasi bentuk toko ritel yang dibuat dengan fasilitas yang nyaman membuat Alfamart dan Indomaret mampu unggul.

Sistem,  yang dibangun solid terutama dalam hal pengelolaan barang merupakan kunci penting dalam industri ritel. Sistem penanganan dan pengawasan terhadap barang dapat meminimalisir shrinkage (kehilangan/kerusakan barang). Dalam industri ritel barang yang hilang atau rusak akibat kesalahan handling merupakan faktor yang krusial, mengingat margin dalam industri ritel tidak terlalu besar. Oleh karena itu, sistem yang baik dalam penanganan dan pengelolaan barang mulai dari gudang distribusi sampai ke dalam toko merupakan kunci sukses berikutnya.

People, yang menjalankan konsep dan sistem dengan baik menjadi kunci terakhir untuk membangun Franchise yang sukses. Tim franchise yang bekerja profesional dan dapat diandalkan merupakan bagian penting lainnya untuk membangun bisnis franchise yang sukses. Orang-orang handal yang tergabung dalam tim franchise menjadi penentu berjalan atau tidaknya konsep dan sistem yang baik yang telah dirancang.

Oleh karena itu, untuk mencapai level kesuksesan seperti Alfamart dan Indomaret sebagai toko ritel, maka konsep, sistem dan people menjadi 3 hal kunci yang perlu dipersiapkan. Konsep bisnis yang simple dilengkapi dengan sistem yang memiliki standar global serta dijalankan oleh personil yang profesional, maka perusahaan franchise yang dibangun akan menjadi sebuah global franchise company.

Global Franchise Company

Jadi segeralah membangun konsep, sistem dan SDM yang baik apabila ingin memiliki perusahaan Franchise yang berstandar global bahkan bisa menyebrang ke luar negara seperti merek-merek KFC, Pizza Hut, Seven Eleven dan lain-lain.

Apabila ada hal-hal yang ingin Anda diskusikan mengenai tahapan membangun bisnis franchise jangan ragu hubungi kami melalui email di franchiseconsultant@ifbm.co.id

Salam Franchise,

 
 
 
Wahdi Fakhrozy
wahdifakhrozy@franchiseorganizer.com
International Franchise Business Management
 Menara Kadin Indonesia
Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3
Jakarta

FRANCHISE INDONESIA PAYAAHHH…!!

December 27, 2012

“Franchise Indonesia payaahhh… Orang kita belum siap menerima bisnis franchise…”

Begitulah ungkburangapan beberapa pengusaha bisnis franchise (franchisor) lokal yang telah mengembangkan bisnisnya dengan sistem franchise. Beberapa dari mereka adalah klien kami juga, yang semula begitu antusias mengembangkan jaringan outletnya dengan franchising. Bahkan beberapa franchisor tersebut adalah penerima Franchise Award dari beberapa media dan lembaga.

Apakah memang benar ungkapan dari beberapa franchisor di atas? Paling tidak saya membenarkan bahwa presepsi dan citra franchise lokal Indonesia tidak banyak yang langgeng. Kantor konsultan franchise IFBM (International Franchise Business Management) tempat saya dan beberapa teman berjihad, pernah melakukan survey pada tahun 2011 dan mendapatkan hasil bahwa rata-rata hanya 20% jaringan outlet franchise yang gagal dari para pengusaha bisnis franchise (franchisor) yang memfranchisekan bisnisnya. Tetapi pada perkembangannya, citra yang terbentuk dari bisnis franchise lokal kita memang berkembang seperti ungkapan di atas.

Sebagai pembimbing dan pengamat bisnis franchise yang telah menjalankan kegiatan ini lebih dari 17 tahun lalu, saya bisa memahami situasi para franchisor (pemberi waralaba) yang telah menjalankan bisnis franchise nya tersebut. Kebanyakan dari mereka, para pengusaha bisnis franchise, masih banyak yang hanya berkonsentrasi pada peningkatan teknis operasional bisnisnya saja dan sangat kurang melakukan peningkatkan dan pengembangan entrepreneurship dari para franchisee -nya (penerima waralaba).

Dalam franchising, seharusnya konsentrasi dari para franchisor adalah: ‘bagaimana membuat para mitra franchisee -nya untuk dapat segera mandiri dan terampil dalam menjalankan bisnis franchise -nya dan menjadi sukses’. Jika franchisor hanya mempersiapkan diri untuk sekedar melakukan support saja, tanpa memberdayakan para mitra franchisee -nya menjadi pengusaha sukses yang mandiri, maka semakin banyak jaringan outlet akan membuat franchisor menjadi semakin sibuk dan melepaskan fungsi pemberdayaan kepada para franchisee -nya. Hal ini secara akumulatif juga akan membuat para franchisee merasa franchisornya mengecewakan mereka.

Franchisor yang mengeluh dan menganggap franchise di Indonesia makin payah, sebenarnya mereka tidak mempunyai pemahaman yang lengkap mengenai konsentrasi pengelolaan franchise yang efektif. Mereka tidak mempunyai program yang sistematik dan efektif untuk membimbing para franchiseenya menjadi entrepreneur yang tangguh. Para franchisor harus membuat bobot program yang cukup untuk menjadikan para franchisee -nya menjadi “businessman” yang sukses.

Pasti mereka akan tetap melihat bahwa para franchisee -nya semua payah, jika franchisor hanya memberikan pelatihan kepada franchiseenya selama 2 minggu hingga 1 bulan tanpa ada program lanjutan yang membuat franchisee menjadi pebisnis tangguh.

Beberapa franchisor lokal dengan merek yang sudah terkenal bahkan tidak mempunyai training center. Ada juga yang tidak pernah mengunjungi outlet franchiseenya lagi setelah pembukaan outletnya 2 tahun yang lalu.

Saya melihat ada franchisor yang memiliki training center yang canggih, tetapi program trainingnya hanya berkisar pelatihan operasional saja. Program trainingnya tidak mengarah untuk menciptakan para franchiseenya menjadi pebisnis mereka yang tangguh. Maka, wajar saja bila banyak franchisor yang mempunyai presepsi bahwa franchise itu payah dan para pembeli franchise di Indonesia “tidak mengerti” franchise.

Dari pengalaman 17 tahun membantu mengembangkan bisnis franchise, berikut ini adalah catatan saya mengenai kunci sukses membangun bisinis franchise:

1. Business Mastery.

Saya masih melihat banyak franchisor yang sudah menawarkan franchisenya, tetapi sebenarnya dia tidak mastery dalam berbisnis. Mereka tidak paham mengorganisasi bisnisnya, tidak bisa membaca laporan keuangan, tidak paham mengenai manajemen pemasaran, dan bahkan mereka tidak memahami index-index bisnis di industri yang difranchisekan tersebut. Jika demikian halnya, maka franchisor ini pasti belum pantas menjadi “guru” dan pembimbing bagi para franchiseenya. Wajar jika franchiseenya banyak yang gagal atau merasa lebih baik menjalankan bisnisnya semaunya sendiri.

2. Standard Business Model.

Beberapa franchisor tidak mempunyai business model yang standar, sehingga setiap mempunyai franchisee baru akan ada ketetapan baru yang intuitive. Franchisor ini tidak mempunyai visi dan tidak berorientasi membangun bisnisnya. Franchisor ini pasti juga tidak mempunyai organisasi yang mapan. Prosedurnya berubah-ubah. Dan bahkan saya bertemu juga dengan franchisor lokal dari usaha cafe yang menyerahkan seluruh pendirian outletnya  dan prosesnya kepada franchisee asalkan dia membayar lebih banyak.

Dalam standard business model diperlukan paling tidak dua standarisasi, yaitu: standarisasi bentuk (desain, ukuran, peralatan, perlengkapan, organisasi), dan standarisasi proses (proses marketing, proses operasional dan proses administrasi).

3. Good start.

Mengawali dengan benar. Sukses bekerjasama dengan franchisee untuk jangka waktu paling tidak 5 tahun harus diawali dengan permulaan yang baik dan tepat. Hal ini yang seringkali menyebabkan kegagalan dalam franchising. Saya menempatkannya sebagai penyebab kegagalan ranking yang ke dua.

Franchisor harus memilih mitra franchisee yang cocok dengan dia dan bisnisnya untuk bisa menjalin kerjasama selama masa kontrak. Kenyataannya, banyak franchisor lokal yang tidak perduli dengan kecocokan asalkan calon franchisee mau membayar. Ada tiga hal yang perlu dimulai dengan baik dan tepat:

  1. Franchisee yang tepat: baik karakternya, cooperativeness, punya modal yang cukup, dan punyak kemampuan (teknis) menjalankan bisnisnya.
  2. Perjanjian Franchise yang lengkap dan jelas.
  3. Memastikan bahwa calon franchisee memahami kerjasama franchise dan perjanjian bisnis yang akan dijalankan. Ini bagian paling penting!

4. Ongoing Management.

Pengelolaan kerjasama franchise yang berkesinambungan. Bukan hanya menjual franchise dan meninggalkan franchisee.

Kegagalan melakukan pengelolaan yang berkesinambungan ini adalah penyebab kegagalan bisnis franchise yang utama. Cara untuk menjadikan bisnis franchise menjadi sukses adalah dengan menjadikan para franchiseenya pebisnis yang sukses.

Berikut ini adalah beberapa program ongoing management yang perlu dilakukan franchisor dalam mengelola bisnis franchise:

  1. Training development yang berorientasi kepada suksesnya outlet franchisee.
  2. Branding dan marketing development: memperkuat branding akan membuat franchisee lebih mudah berbisnis. Kembangkan jurus-jurus marketing yang efektif serta kerjasama pemasaran yang akan membantu franchisee lebih mudah berbisnis.
  3. Operational Support: yang berorientasi untuk cepat dan tanggap dalam mengatasi masalah teknis. Tingkatkan service level: tepat waktu, tepat jumlah dan tepat jenis.
  4. Research and Development: selalu membuat pengembangan yang advance. Sepuluh langkah didepan kompetitor. Banyak franchisor lokal hanya mengembangkan produk dagangannya saja. Sebaiknya franchisor juga meneliti dan mengembangkan business conceptnya yang berorientasi ke masa depan.
  5. Relationship program: dimana franchisor punya program yang sistematis untuk membuat para franchiseenya semakin loyal dan semakin giat dengan bisnis franchise yang dijalankannya. Franchisor perlu membuat agar franchisee bangga dan harmonis dalam bekerjasama dengan franchisor. Tidak banyak franchisor lokal yang mempunyai program relationship ini yang teratur dan terdokumentasi dengan standar.

Apakah Franchise Indonesia payaahhh..? Saya sangat sarankan ikuti dulu saran-saran saya di atas. Pasti franchise Indonesia akan menjadi lebih maju dan berani bersaing global.

Konsultan franchise IFBM akan dengan senang hati untuk memfasilitasi small group workshop bagi para pengusaha franchise yang ingin mendalami program-program yang efektif dalam membuat bisnis franchise yang sukses.

Sukses berbisnis franchise di Indonesia dan kembangkan menjadi pemain global..

Burang Riyadi. MBA

franchiseconsultant@ifbm.co.id

 

Franchise Document – Pentingnya Memiliki Dokumen Franchise Yang Benar

October 15, 2012

Franchise document adalah komponen terpenting dalam menjalankan kegiatan usaha franchise, kita boleh saja bangga jika merek atau brand kita terkenal dimana-mana, kita boleh saja bangga kalau usaha franchise yang kita jalankan outletnya ada dimana-mana atau mudah dijumpai tetapi kita terkadang lupa hal terpenting dalam berbisnis franchise sehingga ketika sudah berjalan banyak menemui kendala dalam segala hal

Pada awal memulai usaha franchise maka?franchise document seperti dokumen biasa saja yang tidak terlalu penting atau hal yang dianggap biasa biasa saja ?sehingga ketika kita menghadapi banyak masalah baru kita menyadari bahwa kita memerlukan franchise document yang benar, ?franchise document adalah berkas berkas tertulis yang diperlukan oleh usaha dengan format franchise baik untuk kelengkapan proses administrasi maupun panduan usaha termasuk didalamnya antara lain ketentuan standarisasi, panduan operasional dan kelengkapan legal yang diperlukan oleh bisnis dengan format franchise

Franchise document atau dokumen franchise pada umumnya bersifat terbatas dan tidak ditujukan pada khalayak umum didalam penyusunan dokumen franchise berorientasi pada aspek -aspek berikut ini antara lain

  • Mudah untuk dimengerti dan diikuti
  • Memberikan motivasi untuk dijalankan
  • Memberikan rasa aman dan kerahasiaan
  • Memberikan uraian yang lengkap untuk rujukan dalam proses aktivitas usaha

Dokumen franchise ada 2 (dua) bagian:

  1. Dokumen franchisor adalah materi yang digunakan untuk menjalankan usaha franchise bagi si pemberi usaha franchise (Franchisor) yang digunakan untuk pengelolaan baik berupa panduan ,ketentuan dan alat bantu bagi operasional pengelolaan franchise
  2. Dokumen franchisee adalah materi yang digunakan untuk menjalankan usaha franchisee berupa panduan dan ketentuan dan alat bantu bagi operasional franchisee

Banyak kita jumpai usaha franchise yang sudah lama berjalan dan memiliki merek cukup terkenal namun sangat disayangkan belum sepenuhnya memiliki? dokumen franchise yang benar dan? sering kali kantor konsultan franchise kami diminta membantu menbuat dokumen franchise yang benar dan mudah dimengerti .

Selalu ada saja pertanyaan kepada kami tentang bagaimana cara pembuatan dokumen franchise apakah susah dalam ?membuat dokumen franchise…….?, berapa biayanya atau mahal ngga jika ?membuat dokumen franchise kemudian apakah jaminanya jika kami sudah memiliki dokumen franchise apakah usaha kami bisa sukses…..? pertanyaan yang sederhana namun cukup berat untuk di jawab, jika kami ditanya apakah susah maka kami menjawab tentunya susah dan tidak semudah membuat dokumen yang lain, kemudian mahal atau murah tergantung apakah bisnis anda sudah siap dalam segala hal, apakah usaha anda bisa sukses maka jawabanya ya …. ? jika dijalankan dengan benar pasti sukses namun jika tidak serius maka agak sulit mencapai kesuksesan.

- Salam Franchise -

Taufik Hidayat

International Franchise Business Management

Kantor Konsultan Franchise
Menara KADIN 30th Fl
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 kav. 2-3
Jakarta 12190 – Indonesia
Ph.:(62-21) 52994547 (hunting), Fax. (62-21) 52994599

 

 

Waralaba Indonesia – Mewaralabakan Bisnis Anda

May 11, 2012

Waralaba Indonesia Mengalami perkembangan yang pasang surut  namun dari perkembangan yang kami lihat hampir disetiap pameran banyak bermunculan merek atau brand baru yang mengusung konsep bisnisnya dengan cara waralaba, Waralaba adalah salah satu cara mengembangkan usaha diantara banyak pilihan yang lain seperti BO ( Business Opportunity) , kemitraan dan Lisensi maupun buka cabang sendiri diantara pilihan tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing

Waralaba Indonesia mempunyai prospek bisnis yang cukup menjanjikan disaat dunia dilanda krisis dan banyak bisnis yang berjatuhan justru bisnis waralaba mengalami perkembangan yang meyakinkan bahkan berkembang dengan pesat sehingga kantor konsultan franchise kami selalu mendapatkan permintaan untuk memberikan bimbingan dari berbagai perusahaan besar maupun UKM untuk membantu proses bagaimana bisnisnya menjadi bisnis waralaba

Kami  selalu  mengawali  penjelasan  pada  setiap  seminar  kami  bahwa Waralaba   hanyalah  salah satu   strategi  pemasaran , diantara  banyak  cara pemasaran  yang  lain. Waralaba  bisa  saja  digunakan  untuk  memasarkan setiap  produk atau  jasa , asalkan  strategi  tersebut  sudah  dikaji  apakah  cocok untuk   kita ,tentu saja ada  beberapa  kondisi  yang  harus dipenuhi  untuk dapat  menerapkan  system franchise  yang  sukses  pada  usaha  kita bahkan  sudah  mencantumkan  kriteria  yang  harus  dipenuhi  untuk  menerapkan  system  waralaba.

Biasanya  system Waralaba   atau franchising  digunakan  bila  kita ingin  agar produk  atau  jasa yang kita jual perlu melakukan penetrasi pasar dengan cepat dan tersebar luas. Bila kita hanya perlu memasarkan produk atau jasa kita secara bertahap dan tidak dalam jumlah yang besar ,maka franchising  mungkin  bukan salah satu “perangkat” yang tepat

Dalam waralaba  “Jurusnya adalah  “The more simple,the more success”  Artinya  semakin  sederhana  konsep  yang  akan difranchisekan ,akan semakin mudah untuk diduplikasikan dan diajarkan kepada orang lain sebagai penerima waralaba .lihat saja beberapa usaha makanan (Restoran) yang sukses yang menjalankan system Waralaba  dan mendunia ,hampir semuanya adalah usaha makanan yang sederhana konsepnya ,seperti ayam goreng tepung,burger,dan lainnya yang sederhana jarang sekali ada restoran seafood atau fine- dinning restaurant yang berkembang dan sukses di waralabakan

Dalam perkembangan waralaba Indonesia yang demikian pesatnya kami selalu memberikan program pelatihan bagaimana caranya bisnis yang anda jalankan menjadi bisnis waralaba , program pelatihan kami adalah Workshop ” How To Franchise Your Business ” program yang membimbing anda untuk siap menjadi pengusaha waralaba yang tangguh dan siap bersaing dengan bisnis warlaba yang lainnya  dari program workshop kami telah banyak menelurkan beberapa pengusaha waralaba yang cukup ternama di tanah air.

Didalam  simulasi  Workshop “How To Franchise Your Business”  kita  juga  akan melakukan kajian  kuantitatif  dalam  bentuk  hitung-hitungan  proyeksi  usaha sehingga dapat mengetahui apakah  dengan  melakukan  system  waralaba  akan memberikan keuntungan  bagi usaha kita

Pelajari  dulu  hal-hal yang  akan  terjadi  dalam  menerapkan  system waralaba sebelum kita  memutuskan  untuk menggunakannya .Bagaimana sebaiknya business concept yang kita persiapkan,bagimana struktur organisasi franchisor yang seharusnya kita siapkan untuk mengelola waralaba  kita ,bagaimana cara pemasarannya waralaba  kita secara efektif nantinya ,bagaimana menyusun perjanjian waralaba   dan  melakukan  persiapan  yang  lainnnya yang sangat diperlukan  nantinya ?

-Salam Franchise-

Taufik Hidayat

 

INTERNATIONAL FRANCHISE BUSINESS MANAGEMENT
Kantor Konsultan Franchise
Menara KADIN 30th Fl
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 kav. 2-3
Jakarta 12190 – Indonesia
Ph.:(62-21) 52994547 (hunting), Fax. (62-21) 52994599

Pelayanan yang baik dan konsisten

April 11, 2012

Dalam keseharian kita tentu kita tidak asing dengan istilah pelayanan atau service karena hal ini sudah menjadi bagian dari harapan atau ekspektasi kita pada saat kita berkunjung ke suatu tempat yang menyajikan atau menyediakan jasa pelayanan seperti Rumah Sakit,  Salon, Restoran, Bengkel, Travel agent dan lain-lain.

Dalam bisnis franchise biasanya service ini sudah dibakukan dalam bentuk Standard Operating Prosedure (SOP) yang akan diajarkan oleh franchisor kepada franchiseenya sejak awal bergabung sebelum bisnisnya beroperasi, bahkan itupun masih harus dilakukan lagi training-training yang berkelanjutan.

Namun ternyata tidak  mudah menjalankan dan mempertahankan standard pelayanan secara baik dan konsisten. Saya ada 2 contoh kasus, yang pertama adalah saat beberapa waktu yang lalu saya dan dua orang rekan berkunjung ke sebuah restoran yang cukup ternama di sebuat mall besar di jakarta.  Sambil menunggu salah satu rekan yang sedang parkir mobil, kami mulai memesan makanan pembuka, minuman dan menu utama. Selang sepuluh menit kemudian rekan kami bergabung dan memesan minuman serta menu utamanya. Cukup lama kami menunggu dan saya sempat menanyakan beberapa kali pada waiter kenapa minuman dan makanan kami belum keluar juga, yang hanya dijawab “tunggu ya bu” tanpa ada kata maaf sedikitpun, sampai akhirnya datanglah menu utama rekan kami yang datang belakangan disusul dengan minumannya. Karena makanan kami belum juga keluar, kami persilahkan rekan kami untuk menyantap duluan makananya karena khawatir keburu dingin. Akhirnya dengan perasaan yang sudah mulai kesal, datanglah makanan kami berturut-turut menu pembuka, minuman dan menu utama.

Dari kejadian diatas kami sempat membahasnya, betapa mengecewakannya sistem pelayanan yang mereka berikan  dimana tahapan-tahapan pelayanan tidak dijalankan dengan  semestinya, yang saya yakin restoran sebesar dan seterkenal itu pasti mempunyai SOP Pelayanan yang excelent hanya saja mungkin implementasinya kurang terkontrol.  Sebagai customer yang  kecewa , kami tidak terpikir untuk datang kembali ke restoran tersebut.

Contoh kedua adalah sebaliknya , ini adalah tempat dimana saya sering melakukan pijat reflexy. Di jakarta tempat ini sudah cukup banyak cabangnya, cukup terkenal dan pelayananya cukup baik dan konsisten, kenapa saya katakan konsisten karena setiap kali saya ingin direflexy, saya bisa datang kecabang manapun dan selalu mendapatkan pelayanan yang sama, mulai dari mereka menerima customer di meja reception, menawarkan jenis jasanyanya , sampai proses pelayanan berakhir di kasir. Bahkan saya terkadang lupa sedang ada di cabang mana karena setelah berada didalam, semua suasana dan pelayanan dijalankan dengan standard yang sama. Saya sudah menjadi customernya sejak 5 tahun yang lalu dan rutin berkunjung setidaknya satu atau dua kali dalam sebulan.

Dari kedua contoh diatas , kita bisa melihat bahwa menjalankan SOP Pelayanan dengan konsisten adalah sebuah keharusan karena customer yang puas berpotensi menjadi Loyal Customer  dimana mereka secara emosional akan terikat dengan brand, akan datang dan datang lagi, bahkan bisa memberi referensi pada keluarga dan teman-2nya. Jadi mari kita pastikan standard pelayanan yang sudah kita buat bisa dijalankan secara baik dan konsisten

-Salam-

Evi Diah Puspitawati

International Franchise Business Management

Menara KADIN 30Fl.

Jl. HR Rasuna Said kav 2-3 Block X-5. Kuningan

Jakarta 12950. Indonesia

Tel. +62-21 5299-4547 (hunting)

Fax. +62-21 5299-4599

Email: franchiseconsultant@ifbm.co.id

www.franchisedocument.net

www.konsultanwaralaba.com

Usaha Franchise Makanan-The More Simple The More Success

March 9, 2012

Usaha Franchise makanan adalah bisnis franchise yang lebih mengutamakan  kesederhanan atau dengan istilah more simple more success dan sebagai contoh  pernah   suatu  kesempatan  kami  dan  rekan  mengunjungi  dan  makan  disebuah restoran  ala  italia  didaerah  kebayoran baru di Jakarta  diatas  meja  sajinya  diletakan  berbagai  materi  promosi  menu-menu  unggulan dan juga sebuah brosur menawarkan waralabanya ,jadi bila  ada  pengunjung  yang tertarik untuk membuka sendiri restoran tersebut dapat membeli franchisenya .

Sebelum memesan makanan, saya  mencoba  membuka-buka menu yang ditawarkan  disana Banyak sekali pilihan menunya,mulai dari nasi goreng kampung ,nasi ayam Hainan, berbagai  pilihan  pizza,pasta ,steak, dan  masih banyak lagi .Bahkan  untuk minuman yang ditawarkan  juga berbagai jenis mulai dari softdrink,jus,milkshake, hingga  wine  diukuran  gelas  dan  botol  sekalipun desain restorannya sederhana,tetapi banyak sekali peralatan yang digunakan ,mulai dari peralatan  open kitchen , cctv,camera,sound system,display  untuk cake dan lainnya

Saat kami  mencoba  menikmati  hidangan yang disajikan sesuai yang kami pesan ,teman kami yang memesan nasi Hainan  mengeluh karena masakannya terlalu asin ,bukan karena rasanya begitu,tetapi kentara sekali kalau telalu banyak kelebihan garam atau bumbu yang lain hingga menyebabkan makanan asin dan teman kami yang memesan pizza mengatakan  bahwa  pizza  yang dipesannya terlalu asam karena mungkin saos tomat yang diberikan terlalu banyak  dan teman kami yang memesan nasi goreng mengeluh karena minyaknya terlalu banyak ,hingga sangat terlihat dipiringnya yang menurun.

Memperhatikan situasi seperti itu saya berpikir bagaimana usaha franchise makanan bisa berkembang  jika ada franchisee                     ( pembeli waralaba ) yang membeli  waralabanya dan membuka  restoran ini ? apakah kualitas sajian makanannya tidak akan menjadi lebih tidak standar dari pengalaman kami membantu usaha mengembangkan  system waralaba,menu dan kegiatan yang terlalu banyak dan rumit sangat tidak menguntungkan untuk dikembangkan dengan system waralaba.semakin rumit usahanya semakin sulit mengajarkan kepada penerima waralabanya.Maklum saja kadangkala  penerima waralaba  bukan  orang  yang sudah berpengalaman dibidang usaha yang dibelinya .apalagi waktu trainingnya biasanya sangat terbatas .

Kalau kita melihat usaha franchise makanan yang sukses–sukses ,biasanya bisnisnya sangat sederhana misalnya  Kentucky Fried Chicken (KFC) , dimulai dengan hanya menyajkan  ayam goreng tepung  yang  sederhana.  Atau  MC Donald , yang selalu menyajikan  burger yang sederhana  pula  hingga  dalam  penyajiannya  begitu simple ,Kita jarang melihat ada  seafood restoran  yang sukses  diwaralabakan  atau restoran lain yang banyak  menunya .hal ini karena  memang  menduplikasikan usaha untuk orang lain sebaiknya dimulai dengan yang sederhana dulu . dengan demikian penerima waralaba dapat lebih mudah mempelajarinya dan mengikutinya dan menjaga kualitasnya .

Demikian  pula  dengan   usaha-usaha lain yang   ingin diwaralabakan  semakin sederhana  prosesnya  semakin sukses waralabanya .permasalahanya  adalah bagaimana  kita  tetap  mempunyai  keunikan  agar  tidak  mudah  dibajak  oleh pesaing kita ,sebagai contoh  Kentucky Fried Chicken   misalnya  para  penerima  waralaba  tidak diajarkan  bagaimana  membuat  tepung  atau  bumbu  yang   lainnnya ,tetapi  penerima  waralaba  harus  membeli  dari  pemberi waralaba dan hal ini juga menjaga ke rahasia usaha yang kita waralabakan  karena  kalau dibidang  waralaba  makanan  kerahasiaan bumbu atau bahan yang lain amat penting dan untuk bidang usaha franchise  yang lain seperti pendidikan yang perlu dibuat sederhana  mungkin  metoda  pengajarannya   atau  sistemnya  pelatihannnya namun  tidak  lepas  pula  menjaga  rahasia  usahanya  dengan menjaga rahasia usaha kita  agar usaha yang  sedang  jalani    tidak  dibajak   pesaing / competitor kita jika sampai  usaha kita  diketahui  orang lain maka  bisnis  yang  susah kita  mulai dari awal  akan  hancur  atau paling tidak  lambat laun  kalah  bersaing dengan  pesaing  bisnis  kita

Salam,

Burang Riyadi , MBA

INTERNATIONAL FRANCHISE BUSINESS MANAGEMENT
PT Inti Fokus Bina Manajemen
Kantor Konsultan Franchise
Menara KADIN 30th Fl
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 kav. 2-3
Jakarta 12190 – Indonesia
Ph.:(62-21) 52994547 (hunting), Fax. (62-21) 52994599

 

Pentingnya Perencanaan Bisnis Waralaba

January 24, 2012

Memulai usaha selalu menghadapi kendala atau ketidak pastian,begitupun dengan bisnis waralaba meskipun bisnis waralaba tingkat kesuksesan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis yang lain ,tetapi bagaimana juga bisnis waralaba memiliki resiko yang namanya kegagalan pula semua tergantung keseriusan serta perencanaan yang matang dalam menjalankan bisnisnya usaha Waralaba adalah bisnis yang telah teruji dan memiliki perencanaan yang baik ,didalam perencaan bisnis waralaba dengan bisnis biasa sangat berbeda jika dalam perencanaan bisnis pada umumnya hanya untuk satu pihak saja maka didalam bisnis waralaba perlu perencanaan untuk dua pihak yaitu sebagai franchisor dan sebagai franchisee

Perencanaan Bisnis waralaba sebagai franchisor adalah perencanaan yang dibuat untuk pemberi waralaba ,sebagai contoh ada beberapa rekan yang memiliki merek begitu terkenal dan memiliki banyak cabang dimana-mana kemudian dengan tanpa perencanaan yang matang si pemilik bisnis tersebut bermaksud mewaralabakan bisnisnya karena banyaknya permintaan untuk membuka cabang dimana-mana dan si pemilik bisnis beranggapan bahwa tanpa perlu perencanaan dia sudah bisa mewaralabakan bisnisnya dan belum memiliki persiapan apa saja yang akan terjadi nantinya , membuat perencanaan dalam usaha waralaba diIndonesia merupakan keharusan dan sangat penting seperti contoh diatas ketika si pemilik bisnis waralaba tersebut mendapat masalah maka dirinya belum siap akan masalah masalah yang dihadapinya karena tidak memiliki perencanaan yang baik , sehingga akan merepotkan dirinya sendiri

Perencanaan apa saja yang harus kita lakukan didalam bisnis waralaba dan point-pointnya apa saja , yang pertama adalah bagaimana kita merumuskan bisnis konsepnya pada bisnis yang akan kita waralabakan , yang kedua sebagai pemberi bisnis waralaba kita memberikan pengetahuan dan ceriitakan konsep bisnis yang akan kita tawarkan atau kita berikan kepada calon pembeli bisnis waralaba kita , yang ketiga didalam konsep bisnis itu dibuat perencanaan perencanaan baik yang bersifat kualitatif ataupun operasional  seperti berapa besar outletnya , lokasinya dimana yang strategis , cara saat memulai bisnisnya ,dan bagaimana menjual bisnis waralaba tentunya semua memerlukan perencanaan yang baik.

-Salam Bisnis Franchise-

Taufik Hidayat

International Franchise Business Management

Menara KADIN 30Fl.

Jl. HR Rasuna Said kav 2-3 Block X-5. Kuningan

Jakarta 12950. Indonesia

Tel. +62-21 5299-4547 (hunting)

Fax. +62-21 5299-4599

Email: franchiseconsultant@ifbm.co.id

www.franchisedocument.net

www.konsultanwaralaba.com

 

Usaha waralaba modal Kecil – Membangun Merek pada Bisnis Waralaba

November 18, 2011

Usaha Waralaba Modal Kecil banyak saat ini mengalami perkembangan yang cukup luar biasa dan mempunyai jenis usaha yang beraneka ragam mulai dari bisnis makanan hingga berbagai usaha jasa , Waralaba adalah salah satu cara mengembangkan usaha diantara cara usaha yang lain seperti membuka cabang sendiri atau menjalin kemitraan dengan orang lain

Didalam bisnis waralaba banyak hal yang mesti diperhatikan mulai dari membuat bisnis konsep hingga bagaimana cara memasarkan bisnis waralabanya namun hal terpenting dari itu masih banyak pengusaha waralaba yang mengabaikan pentingnya mendaftarkan merek dagangnya dan belum memahami pentingnya mendaftarkan mereknya ,sehingga ketika bisnisnya sudah berjalan namun mereknya menjadi sengketa dengan pihak lain hal ini  sangat merugikan dirinya ketika bisnisnya sedang bagus-bagusnya tiba-tiba mereknya diklaim pihak lain sebagai mereknya.

Merek merupakan perangkat yang sangat penting ,sebagai contoh mungkin produk makanan yang kita jual sangat lezat dan luar biasa tetapi mereknya tidak menarik tentunya produknya tidak terlalu dikenal atau tidak menjual maka percuma saja kita menjual kalau mereknya tidak mempunyai daya tarik dan tidak dikenal orang lain bahkan banyak orang yang mempunyai  produk tidak terlalu istimewa tetapi mereknya sangat fenomenal dan produknya menjadi buruan atau kebanggaa bagi siapa saja yang membelinya .

Banyak pengusaha yang sudah bertahun-tahun berjalan tetapi bisnisnya tidak berkembang dengan cepat dan hanya sekedar bertahan saja ,tetapi ada juga pengusaha waralaba yang baru memulai usahanya berkembang dengan pesat karena memiliki merek atau brand yang sangat menjual , tentunya kita bisa memahami betapa penting usaha waralaba modal kecil memiliki merek atau brand yang cukup menjual .

Bukan mimpi jika usaha waralaba modal kecil menjadi bisnis waralaba yang besar dengan membangun merek atau brand yang kita miliki , modal besar belum tentu menjamin bahwa bisnisnya akan menjadi besar dan belum tentu pula modal kecil tidak menjadi besar semua tergantung bagaimana keseriusan kita menjalankan usaha waralaba tersebut walaupun itu hanya usaha waralaba modal kecil saja namun akan terus berkembang menjadi usaha waralaba skala besar pula nantinya.

-Salam Franchise-

   Taufik Hidayat

International Franchise Business Management

Menara KADIN 30Fl.

Jl. HR Rasuna Said kav 2-3 Block X-5. Kuningan

Jakarta 12950. Indonesia

Tel. +62-21 5299-4547 (hunting)

Fax. +62-21 5299-4599

Email: franchiseconsultant@ifbm.co.id

www.konsultanwaralaba.com

Next Page »