FRANCHISE INDONESIA PAYAAHHH…!!

December 27, 2012

“Franchise Indonesia payaahhh… Orang kita belum siap menerima bisnis franchise…”

Begitulah ungkburangapan beberapa pengusaha bisnis franchise (franchisor) lokal yang telah mengembangkan bisnisnya dengan sistem franchise. Beberapa dari mereka adalah klien kami juga, yang semula begitu antusias mengembangkan jaringan outletnya dengan franchising. Bahkan beberapa franchisor tersebut adalah penerima Franchise Award dari beberapa media dan lembaga.

Apakah memang benar ungkapan dari beberapa franchisor di atas? Paling tidak saya membenarkan bahwa presepsi dan citra franchise lokal Indonesia tidak banyak yang langgeng. Kantor konsultan franchise IFBM (International Franchise Business Management) tempat saya dan beberapa teman berjihad, pernah melakukan survey pada tahun 2011 dan mendapatkan hasil bahwa rata-rata hanya 20% jaringan outlet franchise yang gagal dari para pengusaha bisnis franchise (franchisor) yang memfranchisekan bisnisnya. Tetapi pada perkembangannya, citra yang terbentuk dari bisnis franchise lokal kita memang berkembang seperti ungkapan di atas.

Sebagai pembimbing dan pengamat bisnis franchise yang telah menjalankan kegiatan ini lebih dari 17 tahun lalu, saya bisa memahami situasi para franchisor (pemberi waralaba) yang telah menjalankan bisnis franchise nya tersebut. Kebanyakan dari mereka, para pengusaha bisnis franchise, masih banyak yang hanya berkonsentrasi pada peningkatan teknis operasional bisnisnya saja dan sangat kurang melakukan peningkatkan dan pengembangan entrepreneurship dari para franchisee -nya (penerima waralaba).

Dalam franchising, seharusnya konsentrasi dari para franchisor adalah: ‘bagaimana membuat para mitra franchisee -nya untuk dapat segera mandiri dan terampil dalam menjalankan bisnis franchise -nya dan menjadi sukses’. Jika franchisor hanya mempersiapkan diri untuk sekedar melakukan support saja, tanpa memberdayakan para mitra franchisee -nya menjadi pengusaha sukses yang mandiri, maka semakin banyak jaringan outlet akan membuat franchisor menjadi semakin sibuk dan melepaskan fungsi pemberdayaan kepada para franchisee -nya. Hal ini secara akumulatif juga akan membuat para franchisee merasa franchisornya mengecewakan mereka.

Franchisor yang mengeluh dan menganggap franchise di Indonesia makin payah, sebenarnya mereka tidak mempunyai pemahaman yang lengkap mengenai konsentrasi pengelolaan franchise yang efektif. Mereka tidak mempunyai program yang sistematik dan efektif untuk membimbing para franchiseenya menjadi entrepreneur yang tangguh. Para franchisor harus membuat bobot program yang cukup untuk menjadikan para franchisee -nya menjadi “businessman” yang sukses.

Pasti mereka akan tetap melihat bahwa para franchisee -nya semua payah, jika franchisor hanya memberikan pelatihan kepada franchiseenya selama 2 minggu hingga 1 bulan tanpa ada program lanjutan yang membuat franchisee menjadi pebisnis tangguh.

Beberapa franchisor lokal dengan merek yang sudah terkenal bahkan tidak mempunyai training center. Ada juga yang tidak pernah mengunjungi outlet franchiseenya lagi setelah pembukaan outletnya 2 tahun yang lalu.

Saya melihat ada franchisor yang memiliki training center yang canggih, tetapi program trainingnya hanya berkisar pelatihan operasional saja. Program trainingnya tidak mengarah untuk menciptakan para franchiseenya menjadi pebisnis mereka yang tangguh. Maka, wajar saja bila banyak franchisor yang mempunyai presepsi bahwa franchise itu payah dan para pembeli franchise di Indonesia “tidak mengerti” franchise.

Dari pengalaman 17 tahun membantu mengembangkan bisnis franchise, berikut ini adalah catatan saya mengenai kunci sukses membangun bisinis franchise:

1. Business Mastery.

Saya masih melihat banyak franchisor yang sudah menawarkan franchisenya, tetapi sebenarnya dia tidak mastery dalam berbisnis. Mereka tidak paham mengorganisasi bisnisnya, tidak bisa membaca laporan keuangan, tidak paham mengenai manajemen pemasaran, dan bahkan mereka tidak memahami index-index bisnis di industri yang difranchisekan tersebut. Jika demikian halnya, maka franchisor ini pasti belum pantas menjadi “guru” dan pembimbing bagi para franchiseenya. Wajar jika franchiseenya banyak yang gagal atau merasa lebih baik menjalankan bisnisnya semaunya sendiri.

2. Standard Business Model.

Beberapa franchisor tidak mempunyai business model yang standar, sehingga setiap mempunyai franchisee baru akan ada ketetapan baru yang intuitive. Franchisor ini tidak mempunyai visi dan tidak berorientasi membangun bisnisnya. Franchisor ini pasti juga tidak mempunyai organisasi yang mapan. Prosedurnya berubah-ubah. Dan bahkan saya bertemu juga dengan franchisor lokal dari usaha cafe yang menyerahkan seluruh pendirian outletnya  dan prosesnya kepada franchisee asalkan dia membayar lebih banyak.

Dalam standard business model diperlukan paling tidak dua standarisasi, yaitu: standarisasi bentuk (desain, ukuran, peralatan, perlengkapan, organisasi), dan standarisasi proses (proses marketing, proses operasional dan proses administrasi).

3. Good start.

Mengawali dengan benar. Sukses bekerjasama dengan franchisee untuk jangka waktu paling tidak 5 tahun harus diawali dengan permulaan yang baik dan tepat. Hal ini yang seringkali menyebabkan kegagalan dalam franchising. Saya menempatkannya sebagai penyebab kegagalan ranking yang ke dua.

Franchisor harus memilih mitra franchisee yang cocok dengan dia dan bisnisnya untuk bisa menjalin kerjasama selama masa kontrak. Kenyataannya, banyak franchisor lokal yang tidak perduli dengan kecocokan asalkan calon franchisee mau membayar. Ada tiga hal yang perlu dimulai dengan baik dan tepat:

  1. Franchisee yang tepat: baik karakternya, cooperativeness, punya modal yang cukup, dan punyak kemampuan (teknis) menjalankan bisnisnya.
  2. Perjanjian Franchise yang lengkap dan jelas.
  3. Memastikan bahwa calon franchisee memahami kerjasama franchise dan perjanjian bisnis yang akan dijalankan. Ini bagian paling penting!

4. Ongoing Management.

Pengelolaan kerjasama franchise yang berkesinambungan. Bukan hanya menjual franchise dan meninggalkan franchisee.

Kegagalan melakukan pengelolaan yang berkesinambungan ini adalah penyebab kegagalan bisnis franchise yang utama. Cara untuk menjadikan bisnis franchise menjadi sukses adalah dengan menjadikan para franchiseenya pebisnis yang sukses.

Berikut ini adalah beberapa program ongoing management yang perlu dilakukan franchisor dalam mengelola bisnis franchise:

  1. Training development yang berorientasi kepada suksesnya outlet franchisee.
  2. Branding dan marketing development: memperkuat branding akan membuat franchisee lebih mudah berbisnis. Kembangkan jurus-jurus marketing yang efektif serta kerjasama pemasaran yang akan membantu franchisee lebih mudah berbisnis.
  3. Operational Support: yang berorientasi untuk cepat dan tanggap dalam mengatasi masalah teknis. Tingkatkan service level: tepat waktu, tepat jumlah dan tepat jenis.
  4. Research and Development: selalu membuat pengembangan yang advance. Sepuluh langkah didepan kompetitor. Banyak franchisor lokal hanya mengembangkan produk dagangannya saja. Sebaiknya franchisor juga meneliti dan mengembangkan business conceptnya yang berorientasi ke masa depan.
  5. Relationship program: dimana franchisor punya program yang sistematis untuk membuat para franchiseenya semakin loyal dan semakin giat dengan bisnis franchise yang dijalankannya. Franchisor perlu membuat agar franchisee bangga dan harmonis dalam bekerjasama dengan franchisor. Tidak banyak franchisor lokal yang mempunyai program relationship ini yang teratur dan terdokumentasi dengan standar.

Apakah Franchise Indonesia payaahhh..? Saya sangat sarankan ikuti dulu saran-saran saya di atas. Pasti franchise Indonesia akan menjadi lebih maju dan berani bersaing global.

Konsultan franchise IFBM akan dengan senang hati untuk memfasilitasi small group workshop bagi para pengusaha franchise yang ingin mendalami program-program yang efektif dalam membuat bisnis franchise yang sukses.

Sukses berbisnis franchise di Indonesia dan kembangkan menjadi pemain global..

Burang Riyadi. MBA

franchiseconsultant@ifbm.co.id

 

Cari Duit VS Membangun Bisnis

December 20, 2012

Saya selalu teriburangnspirasi saat mendengar presentasi dari tokoh-tokoh UKM yang memberikan seminar untuk memotivasi pebinis (atau calon pebisnis). Mereka menjalankan bisnisnya dengan penuh antusias, dan bahkan tidak merasakan adanya kesulitan. Tentunya hal itu karena mereka mengerjakan bisnisnya dengan ikhlas dan perasaan senang.

Beberapa peserta seminar juga kelihatan terinspirasi dan termotivasi. Mereka berdiri dan bertanya, bagaimana caranya untuk memulai berbisnis dengan sukses. Yang lainnya juga bertanya mengenai kiat sukses menjalankan bisnis.

 Sering kali saya mendengar pencerahan dari pemberi seminar bisnis bahwa untuk memulai bisnis yang terpenting segera memulai saja berbisnis. Yang terpenting action! Jika makin dikaji-kaji maka biasanya bisnisnya tidak akan kunjung dimulai. Dan begitulah mereka memulai bisnis mereka dulu.

Tapi saya berpikir lagi sambil melihat kenyataan yang ada dari pebisnis disekitar kita. Pengamatan saya melihat bahwa tidak banyak pebisnis kita yang bisnisnya berstandar global. Pengusahanya mungkin menjadi kaya raya dan sangat sejahtera. Tetapi bisnisnya tidak menjadi bisnis kelas dunia. Atau fenomena yang lain terlihat bahwa pengusaha yang sudah kaya  ini membuat bisnis-bisnis lain. Merek-merek baru. Kelihatannya mereka akan mengoptimalkan produktifitas uang dan kekayaannya.

Saya jadi melihatnya bahwa mereka berorientasi menambah kekayaan. Cari duit adalah tujuan utamanya. Memang tidak ada yang salah bahwa bisnis memang yang dicari adalah keuntungan dan uang yang sebanyak-banyaknya.

 Sekarang saya merefleksikan perbandingan berikut ini; saya mengenal beberapa pemilik Factory Outlet di Bandung yang sangat sukses. Dari cerita mereka yang luar biasa, saya ketahui bahwa sebagian dari mereka merintis usahanya dari bawah di era tahun 1980an. Bahkan ada yang memulai karir bisnisnya dari pinggir jalan menjual T-Shirt. Sekarang mereka memiliki puluhan Factory Outlet dan juga beberapa bisnis bidang lainnya. Dia kaya raya!

Saat saya mampir di beberapa kantor mereka, hampir semua mempunyai tipikal yang sama. Kantornya dibanjiri oleh suplier-suplier yang memasok barang. Bahkan situasinya boleh dibilang berantakan.

Pandangan saya yang lain, saya melihat bisnis dengan merek ZARA dan MANGO. Dimana keduanya juga berbisnis retail fashion. Mirip-mirip dengan Factory Outlet. Zara adalah salah satu merek yg berasal dari Spanyol dan bermarkas di Arteixo, Gallicia. Bisnisnya dimulai pada tahun 1975 dan sekarang ada di 73 negara dengan ribuan outlet.

MANGO, adalah sebuah perusahaan desain dan manufaktur pakaian yang didirikan di Barcelona, Catalonia (Spanyol). Bisnisnya dimulai pada tahun 1989 dan saat ini sudah ada di lebih dari 103 negara dengan lebih dari 2000 outlet.

 Factory outlet teman-teman kita di Bandung dan kedua merek dari Spanyol di atas memulai usahanya dalam kurun yang tidak jauh berbeda. Sama-sama dari kota “kecil” di negaranya. Tetapi pencapaiannya sangat berbeda.

Pasti ada saja alasannya yang membuat hasil tersebut berbeda. Tetapi saya melihat bedanya pengusaha yang “Membangun Bisnisnya” dan pengusaha yang mungkin hanya berorientasi “Cari Duit”.

Pasti tidak ada yang salah dari keduanya. Masing-masing mempunyai rencananya sendiri-sendiri. Saya hanya ingin memperlihatkan dua fenomena yang berbeda.

 Pengusaha yang kekayaannya sangat banyak bisa hidup sejahtera mungkin sampai tujuh turunan. Walau bisnisnya mungkin tidak terlalu “kemana-mana” dan mungkin tidak sampai tahan lama. Mungkin setelah mendirikan usahanya yang berhasil tersebut, dia berubah quadrant menjadi investor yang dapat lebih cepat lagi mendapatkan kekayaan.

Sedangkan pengusaha yang “Membangun Bisnisnya”, selain dia kaya raya dia juga mempunyai reputasi dimana-mana. Bisnisnya yang semakin besar pasti digiring oleh sistem yang membuat bisnis tersebut bisa lebih langgeng. Manfaat yang bisa diberikan dari bisnisnya juga akan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang dan lebih panjang.

Kembali kepada memulai bisnis, mungkin ada baiknya jika sejak awal kita sudah membuka wawasan kita: apakah kita hanya akan “Cari Duit” atau akan “Membangun Bisnis” kita.

Boleh untuk menjadi renungan..

Burang Riyadi MBA.

partner

International Franchise Business Management (IFBM)

franchise consultant firm

 Menara KADIN 30Fl.

Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 kav. 2-3

Jakarta 12950

Tel +6221 5299 4547

Email franchiseconsultant@ifbm.co.id

Usaha Franchise – Produk Sederhana Menembus Dunia

December 18, 2012

Usaha franchiskonsultan franchisee merupakan suatu cara bagaimana kita memperluas target pemasaran  , kelebihan usaha dengan cara  franchise mungkin lebih bisa kita andalkan jika dibandingkan dengan hanya membuka cabang sendiri  yang sangat membutuhkan investasi lebih besar ,  di franchisekan sama saja kita membagi kesuksesan kita kepada orang lain dan yang terpenting memperluas jaringa usaha dengan cepat , yang menjadi pertanyaan kami kenapa justru produk atau jasa yang sederhana yang lebih cepat jika kita franchisekan …?   didalam dunia usaha franchise ada motto “  The more simple , The more success  ” artinya usaha yang sederhana akan lebih sukses

Usaha franchise yang paling populer saat ini masih didominasi produk makanan atau Food and Beverage  , mengapa demikian ….?   makanan merupakan kebutuhan kita sehari-hari sehingga kita perlu makan sebagai memenuhi kebutuhan hidup , dibandingkan dengan usaha franchise yang lain usaha franchise makanan cepat berkembang dan dapat bertahan lebih lama dibanding dengan usaha yang lain kalau disetiap pameran franchise maka yang sering kita lihat banyak bermunculan adalah usaha usaha baru dengan mengusung makanan dibanding usaha lainnya

Perkembangan industri usaha franchise makanan atau minuman sangat cepat bahkan banyak yang menembus lintas negara bahkan benua sebagai contoh Mc Donald ,KFC ,Starbuck atau Pizza HUT   di negara atau benua belahan mana kita tidak menemukan Mc Donald , Pizza HUT  maupun Starbuck  pasti sangat mudah kita jumpai , sebagai ilustrasi kita bisa saja  menyajikan Burger atau ayam goreng selezat Mc donald atau KFC dan  kopi senikmat StarBuck tetapi belum tentu bisa menjual lebih banyak dari Mc Donald atau KFC  maupun kopi sebanyak starbuck karena mereka sudah memiliki sistem dan jaringan yang cukup kuat lalu apakah kita bisa sehebat mereka jawabanya tentu bisa kenapa tidak , kita memiliki banyak jenis makanan yang lezat dan banyak disukai namun mungkin secara sistem dan jaringan kita tidak memiliki jaringan dan sistem yang sehebat mereka selain faktor lain seperti merek atau brand yang mudah dikenal dan mudah diingat , mungkin saja kita memiliki beberapa merek atau brand franchise lokal namun keberadaannya masih jauh dari tempat yang strategis diluar mall ternama atau hanya di jalan kecil jauh dari keramaian justru merek merek asing setiap langkah dengan mudah kita jumpai di mall mall ternama di ibukota

Banyak makanan atau minuman tradisional kita yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan cara membuatnya cukup sederhana sehingga tidak memerlukan banyak tahapan dalam penyajiannya , namun sedikit yang mendalami dan serius menjadikan makanan tradisional kita sebagai usahanya sebagai usaha franchise  seperti bakso dan somay maupun soto atau minuman khas negara kita seperti Es kelapa , cendol dll mungkin jika saja dikemas dengan cantik dan semodern mungkin pasti bisa dijadikan usaha franchise yang menguntungkan , misalnya bisnis bakso mungkin sangat mudah dalam penyajiannya begitu juga dengan somay tidak terlalu rumit atau sulit dalam penyajiannya namun kita belum menjumpai usaha franchise bakso atau somay yang dapat dengan mudah dijumpai mall mall maupun Hypermart atau tempat belanja ternama yang lainnya   semua masih didominasi merek asing atau brand brand besar yang sudah tentu bukan menunjukan ciri khas bangsa kita  dan yang paling penting jangan sampai makanan atau minuman tradisional kita di akui atau dimiliki negara lain seperti Tempe yang sudah menjadi makanan kebanggaan di Jepang

- Salam Franchise -

    Taufik  Hidayat

International Franchise Business Management ( IFBM )

Menara Kadin Indonesia

Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3

Jakarta

Twitter: @taufikIFBM

 

Peluang Bisnis Franchise – Membeli Bisnis Franchise atau Lisensi

December 7, 2012

Peluang Bisnis Franchise saat ini masih menjadi pilihan yang sangat menjanjikan , walau  telah terbit peraturan baru tentang usaha franchise  yang sedikit membuat bisnis franchise  menurun dalam perkembangannya tetapi pilihan membeli bisnis franchise tetapi prioritas utama menjadi pilihan memulai usaha dan tetap saja beberapa pengusaha franchise yang kewalahan akan permintaan dari masyarakat membeli  bisnis franchisenya , bahkan banyak sekali animo masyarakat didaerah yang ingin membeli bisnis franchise dari Jakarta untuk membuka didaerahnya masing-masing

Peluang Bisnis Franchise tetap memiliki daya tarik  tersendiri tetapi perlu dingat memulai usaha tidak hanya dengan konsep franchise tetapi adalah beberapa  cara berbisnis lain yang juga cukup menarik misalnya Lisensi atau Business Opportunity , dan perlu diingat dengan konsep franchise mungkin memang sudah teruji kemampuan bisnisnya karena pengalaman dan Jaringan usahanya yang sudah kuat tetapi lisensi juga tidak kalah menariknya dengan franchise mungkin masih banyak yang belum memahami antara franchise , lisensi dan Business Opportunity

Apakah Lisensi itu , lalu apa keuntungan berbisnis dengan format lisensi sebagai contoh sehari hari kita mengunakan lisensi adalah menggunakan piranti Microsoft Windows dan tentunya pirantik asli original bukan bajakan jika kita menggunakan Windows punya siapakah piranti tersebut tentunya milik Bill Gates kita hanya menggunakannya saja tetapi tidak dapat merubah microsoft tersebut. Apakah Windows peduli kita rugi atau untung tetapi Windows hanya mempersilakan kita mempergunakan pirantinya tidak peduli apakah kita untung atau rugi jika menggunakan piranti tersebut

Didalam bisnis franchise kita diarahkan bagaimana mencapai keuntungan yang maksimal , kita dan pemberi bisnis franchise sama sama bertanggung jawab menjaga merek dan unit usaha kita untuk tujuan yang sama  demi mendapat keuntungan besar tetapi jika berbisnis dengan lisensi kita diberikan kesempatan untuk menjual produknya tetapi si pemberi lisensi tidak memperdulikan apakah kita mendapat keuntungan atau kerugian sehingga bisa dikatakan kita hanya diberikan nama lisensi atau produknya tetapi dukungan usahanya tidak terlalu diperhatikan namun tidak ada salahnya kita memcoba memulai usaha dengan format Lisensi

Jika disetiap pameran kita banyak ditawarkan pilihan berbisnis dengan Franchise atau Business Opportunity namun tidak sedikit pula yang menawarkan kita dengan konsep lisensi tetapi belum banyak yang memahami bagaimana konsep lisensi tersebut  sehingga yang ditawarkan hanya bisnis franchise dan Business Opportunity saja  walau sebenarnya tema pamerannya   memakai tema ” Pameran Franchise , Business Opportunity dan lisensi ” namun pada kenyataannya jarang ditawarkan bisnis yang benar-benar dengan konsep lisensi dan hanya bisnis franchise dan business Opportunity saja

Bisnis dengan konsep lisensi bisa menjadi pilihan utama jika memang dengan konsep franchise sudah tidak menjanjikan dengan dikeluarkanya peraturan baru mungkin saja banyak pengusaha yang akan mengusung konsep usahanya dengan memakai format lisensi ,jika peraturan yang baru sedikit membawa pengaruh dengan usaha dengan konsep franchise maka lisensi bisa menjadi pilihan yang lain , dan konsep lisensi juga cukup menarik untuk dijalankan

Usaha dengan lisensi tidak terlalu jauh berbeda dengan franchise hanya saja jika dengan konsep franchise dukungan dan support si pemberi franchise sangat diperlukan maka aturan untuk lisensi cukup ringan dan mudah jika diterapkan kepada bisnis kita dan support pemberi lisensi tidak terlalu penting hanya saja kita juga perlu menjaga nama baik merek atau brand yang kita pakai sebagai penerima bisnis lisensinya

Untuk informasi lengkap tentang bisnis franchise atau lisensi dan Business Opportunity, kami akan selalu siap membantu anda bagaimana membangun bisnis anda menjadi bisnis franchise atau lisensi yang handal dan kami juga memberikan konsultasi gratis ( Free consultation ) jika memang diperlukan dengan menghubungi  kami di 021 -72780640 dan 021-93734500

-Salam Franchise-

Taufik Hidayat

Menara Kadin Indonesia, lt. 30
Jl. HR. Rasuna Said Blok X – 5, Kav.2 – 3, Jakarta 12950
Telephone: 021-52994547, Fax: 021-52994599
e-mail:franchiseconsultant@ifbm.co.id

BUSINESS CONCEPT VS BUSINESS MODEL

November 27, 2012

Sebagai konsultan franchise, dalam membimbing klien yang akan memfranchisekan bisnisnya, kami kerap melakukan konfirmasi terhadap business model yang akan diduplikasi dengan franchising. Business Model yang standar akan sangat memudahkan melakukan franchising dengan sukses. Kendalanya, seringkali ada saja Business Model yang tidak mapan standarisasinya karena Business Conceptnya belum terstruktur.
Saya ingin ulas sekali lagi topik mengenai Business Concept dan Business Model ini dalam kaitannya dengan Franchising. Saya akan coba merumuskan pemahaman Business Concept secara sederhana. Kantor konsultan franchise kami mendifinisikan Business Concept sebagai: “Gabungan gagasan/ide setiap kegiatan dalam bisnis yang terintegrasi”. Misalnya:
(1) Dari seorang pengusaha, ide bisnisnya adalah menjual ayam goreng tepung,
(2) tampilan/desain outletnya akan dibuat dengan gaya Jepang,
(3) cara memasaknya ditampilkan terbuka sehingga bisa dilihat oleh pelanggan,
(4) peralatan masaknya menggunakan alat-alat tradisional,
(5) gagasan untuk suplai ayamnya bekerjasama dengan koperasi-koperasi desa, dan seterusnya..dan seterusnya.
Gagasan-gagasan atau ide-ide ini dapat diintegrasikan/disusun dan distrukturkan menjadi KONSEP. Atau kami menyebutnya Business Concept. Mungkin belum detil, tetapi semua ide dari proses-proses dan bidang-bidang yang terkait sudah bisa diceritakan.
Jika kita coba mendetilkan Business Concept ini menjadi lebih nyata, maka hasilnya akan menjadi sebuah Business Model yang standar. Business Model yang standar itu akan terdiri dari:
Standar Bentuk, seperti: Lokasi, ukuran bangunan, desain, bahan bangunan, peralatan, organisasi, jumlah orang, jumlah dan ukuran ruangan, dan lainnya; serta
Standarisasi Proses, seperti: proses Pemasaran, proses Operasional, dan proses Administrasi serta keuangan.
Detail-detail Standarisasi Bentuk di atas, kalau kita rincikan dan konversikan dalam bentuk angka (uang) akan menggambarkan Jumlah Investasi dari bisnis model tersebut.
Sedangkan Standarisasi Proses di atas, bila kita rincikan (misalnya: kita detailkan cara melakukan launching, cara promosi, cara melayani tamu, dan lain-lainnya) dan konversikan ke angka (uang) akan memberikan gambaran mengenai Biaya Pengeluaran (overhead) setiap bulannya.
Dari proses standarisasi bentuk dan proses tersebut di atas, kita dapat melakukan simulasi bisnis tersebut dengan metoda cost oriented, artinya kita dapat melakukan simulasi target penjualan berdasarkan biaya-biaya yang sudah didetailkan. Misalnya: Jika kita sudah mengetahui berapa jumlah investasi yang diperlukan, maka kita akan dapat memperkirakan lama pengembalian Investasi dari potensi pendapatan yang kita targetkan. Atau, jika kita sudah mengetahui proyeksi pengeluaran biaya bulanan kita, maka kita akan dapat menargetkan penjualan bulanan kita agar kita bisa mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Kelanjutan proses ini akan memudahkan kita membuat proyeksi usaha.
Kaitan pembentukan Business Model di atas dengan bisnis franchise, adalah:
  1. Jika kita dapat mendetilkan setiap proses dari pembentukan Business Model tersebut, maka sebenarnya kita mempunyai proses “Mastery Bisnis” yang berguna untuk membimbing para franchisee (penerima franchise) kita.
  2. Semakin standar Business Model yang dibentuk, maka akan semakin mudah untuk dilakukan duplikasi kepada franchisee.
  3. Dalam mengelola bisnis franchise, akan semakin efektif jika kita melakukan monitoring kepada Business Model yang standar.
Seperti apa contoh Business Model yang standar itu?
Misalkan saja kita membuka usaha bisnis franchise restoran, mungkin kita akan mempunyai beberapa Business Model: ada Business Model dengan bentuk lokasi di ruko, ada Business Model dengan bentuk lokasi di Mal, atau ada juga Business Model dengan bentuk lokasi kios, dan lain-lain. Setiap standarisasi bentuk akan merupakan satu Business Model.
Dari setiap standar bentuk tersebut, masing-masing dibuatkan proses-proses kegiatan yang standar juga; yaitu proses-proses kegiatan Pemasaran, Operasional dan Administrasi/ Keuangan.
Sebelum kita Franchisekan bisnis kita, maka rumuskan Business Concept dan Business Model yang standar..
Burang Riyadi MBA
Internationa Franchise Business Management  ( IFBM )
Menara Kadin Indonesia
Jl.H.R Rasuna Said Blok X-5 Kav 2-3
Jakarta 12950  Indonesia
Telp (+62-21) 52994547  Fax (+62-21) 52994599
e-mail:franchiseconsultant@ifbm.co.id

Franchise Document – Pentingnya Memiliki Dokumen Franchise Yang Benar

October 15, 2012

Franchise document adalah komponen terpenting dalam menjalankan kegiatan usaha franchise, kita boleh saja bangga jika merek atau brand kita terkenal dimana-mana, kita boleh saja bangga kalau usaha franchise yang kita jalankan outletnya ada dimana-mana atau mudah dijumpai tetapi kita terkadang lupa hal terpenting dalam berbisnis franchise sehingga ketika sudah berjalan banyak menemui kendala dalam segala hal

Pada awal memulai usaha franchise maka?franchise document seperti dokumen biasa saja yang tidak terlalu penting atau hal yang dianggap biasa biasa saja ?sehingga ketika kita menghadapi banyak masalah baru kita menyadari bahwa kita memerlukan franchise document yang benar, ?franchise document adalah berkas berkas tertulis yang diperlukan oleh usaha dengan format franchise baik untuk kelengkapan proses administrasi maupun panduan usaha termasuk didalamnya antara lain ketentuan standarisasi, panduan operasional dan kelengkapan legal yang diperlukan oleh bisnis dengan format franchise

Franchise document atau dokumen franchise pada umumnya bersifat terbatas dan tidak ditujukan pada khalayak umum didalam penyusunan dokumen franchise berorientasi pada aspek -aspek berikut ini antara lain

  • Mudah untuk dimengerti dan diikuti
  • Memberikan motivasi untuk dijalankan
  • Memberikan rasa aman dan kerahasiaan
  • Memberikan uraian yang lengkap untuk rujukan dalam proses aktivitas usaha

Dokumen franchise ada 2 (dua) bagian:

  1. Dokumen franchisor adalah materi yang digunakan untuk menjalankan usaha franchise bagi si pemberi usaha franchise (Franchisor) yang digunakan untuk pengelolaan baik berupa panduan ,ketentuan dan alat bantu bagi operasional pengelolaan franchise
  2. Dokumen franchisee adalah materi yang digunakan untuk menjalankan usaha franchisee berupa panduan dan ketentuan dan alat bantu bagi operasional franchisee

Banyak kita jumpai usaha franchise yang sudah lama berjalan dan memiliki merek cukup terkenal namun sangat disayangkan belum sepenuhnya memiliki? dokumen franchise yang benar dan? sering kali kantor konsultan franchise kami diminta membantu menbuat dokumen franchise yang benar dan mudah dimengerti .

Selalu ada saja pertanyaan kepada kami tentang bagaimana cara pembuatan dokumen franchise apakah susah dalam ?membuat dokumen franchise…….?, berapa biayanya atau mahal ngga jika ?membuat dokumen franchise kemudian apakah jaminanya jika kami sudah memiliki dokumen franchise apakah usaha kami bisa sukses…..? pertanyaan yang sederhana namun cukup berat untuk di jawab, jika kami ditanya apakah susah maka kami menjawab tentunya susah dan tidak semudah membuat dokumen yang lain, kemudian mahal atau murah tergantung apakah bisnis anda sudah siap dalam segala hal, apakah usaha anda bisa sukses maka jawabanya ya …. ? jika dijalankan dengan benar pasti sukses namun jika tidak serius maka agak sulit mencapai kesuksesan.

- Salam Franchise -

Taufik Hidayat

International Franchise Business Management

Kantor Konsultan Franchise
Menara KADIN 30th Fl
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 kav. 2-3
Jakarta 12190 – Indonesia
Ph.:(62-21) 52994547 (hunting), Fax. (62-21) 52994599

 

 

Pameran Franchise- Media Promosi Usaha Franchise Yang Efektif

October 12, 2012

Pameran franchise adalah media promosi yang sangat efektif banyak Perusahan yang berhasil selalu berpikir bahwa mempromosikan produk, jasa atau bisnisnya adalah salah suatu kegiatan yang paling penting yang harus dipikirkan secara matang, detail dan berkelanjutan, oleh karena itu biasanya program promosi direncanakan untuk jangka waktu minimal setahun kedepan.

Pameran franchise adalah sebuah strategi promosi yang merupakan satu diantara banyak cara untuk memperkenalkan dan memasarkan produk, jasa atau bisnis. Pameran juga bisa menunjukan eksistensi sebuah perusahaan  atau biasa kita sebut sebagai program Branding. Karena kemungkinan banyak diikuti oleh perusahaan sejenis, maka pameran juga bisa dipakai untuk mengukur dan   mengetahui informasi perusahaan pesaing, dari mulai harga, keunggulan produk, peralatan yang digunakan, inovasi baru yang diperkenalkan dan juga teknologi apa yang dikembangkan. Melalui pameran , perusahaan dapat melakukan survey pasar, dengan melihat seberapa besar minat pengunjung pameran terhadap produk , jasa atau bisnisnya.  Ini semua bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi  untuk menentukan strategi bisnis ke depannya. Yang tidak kalah penting adalah dengan pameran, perusahaan juga bisa mengukur kualitas SDM serta teamwork yang dimiliki. Semua itu bisa menjadi program improvement dalam meningkatkan daya saing.

Sejak tahun 2000an  ada beberapa Event Organizer  yang secara rutin menyelenggarakan Pameran yang khusus untuk industri Franchise, misalnya pada bulan sepetember 2012  akan  digelar pameran franchise yang merupakan pameran tahunan terbesar yang diseleggarakan untuk kesepuluh kalinya oleh salah satu Event organizer ternama. Dalam satu tahun kita bisa disuguhkan setidaknya 2 kali pameran franchise yang besar dan ada  pameran dengan skala yang lebih kecil yang diselenggarakan dibeberapa daerah, belum lagi pameran franchise internasional di Asia maupun belahan dunia lainnya. Sebenarnya apa yang kita bisa manfaatkan dari  Pameran Franchise?

Pameran Franchise terbilang unik bila dibandingkan dengan pameran lainnya. Kenapa unik? karena bukan produk atau jasa yang ditawarkan melainkan sistem bisnis. Sebagaimana definisi franchise itu sendiri, menawarkan  bisnis untuk diduplikasi  pihak lain sarat dengan berbagai  ketentuan untuk bisa dikatagorikan sebagai layak di franchisekan seperti:

  • Standarisasi atas pelayanan dan barang dan atau jasa yang ditawarkan
  • Mempunyai ciri khas usaha
  • Dapat diajarkan dan diaplikasikan
  • Terbukti sudah memberikan keuntungan
  • Mereknya telah terdaftar
  • Memberikan dukungan yang berkesinambungan

Tidak kalah sulitnya adalah merekrut calon franchisee yang  mengacu pada kriteria   yang di kehendaki.

Bagaimana para pelaku usaha dalam hal ini Franchisor mempersiapkan Pameran Franchise  yang diikutinya agar sukses  mencapai target yang diinginkan?

Banyak faktor yang harus dipersiapkan peserta pameran (exhibitor)  yaitu:

  1. 1.    Penentuan tujuan dari pameran :

Sebelum memutuskan untuk mengikuti salah satu kegiatan pameran, sebaiknya dirumuskan secara matang apa tujuan yang ingin dicapai (objective) dari keikutsertaannya. Pimpinan beserta team yang terlibat harus punya pemahaman yang sama akan tujuan itu sehingga semua anggota team siap dengan berbagai strategi yang matang dan terencana.

Mengingat yang akan ditawarkan adalah sistem bisnis tentu saja penawaran harus mengacu pada kebutuhan inti bisnisnya seperti : kriteria pemilihan lokasi, besarnya investasi, target market, program training & support, program promosi dan branding ,  program R& D dan keunggulan bisnis yang ditawarkan, karena itu biasanya menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh pengunjung yang  memang datang untuk “berbelanja bisnis”

  1. 2.    Pemilihan Event Organizernya dan lokasi pameran:
  • Nama besar Organizer bisa menjadi daya tarik dan jaminan bahwa event yang akan diselenggarakan menjadi besar dan sukses, karena biasanya mereka mampu mengajak  atau mendatangkan peserta dan pengunjung dalam jumlah besar.
  • Cek terlebih dahulu mengenai jumlah pengunjung pameran pada pameran terakhir yang diadakan organizer tersebut. Hindari pameran yang jumlah kunjungannya cenderung sedikit. Selain itu sebagai bahan pertimbangan, Anda juga bisa melihat testimoni dari para peserta pameran sebelumnya.
  • Biasanya pameran yang diselenggarakan organizer besar, memiliki sumber daya dan strategi pemasaran yang lebih baik.
  • Berapa banyak stand yang ditawarkan dan berapa biaya yang ditawarkan. Sebelum  mengambil keputusan untuk mengikuti pameran, mintalah kepastian dari panitia mengenai jumlah stand yang diperbolehkan ikut pameran.
  • Tanyakan sarana pendukung pameran, jangan mengambil keputusan sebelum mengetahui tentang sarana promosi yang diberikan selama pameran berlangsung. Perhitungkan juga antara biaya yang Anda keluarkan untuk mengikuti pameran dengan sarana yang diberikan panitia. Bila dirasa tidak seimbang, lebih baik jangan mengikuti pameran tersebut.
  • Exposure yang gencar dan berskala nasional baik di  media cetak maupun elektronik , biasanya mampu dilakukan oleh organizer besar dalam mempromosikan event tersebut.
  • Pemilihan lokasi yang strategis dan bergengsi akan  membantu memilih target pengunjung yang sesuai  dengan para pelaku usaha yang ikut serta pada pameran.
  • Endorsment dari Asosiasi terkait akan membantu untuk meyakinkan peserta dapat menciptakan sinergi yang baik.

3. Pemilihan tempat (sesuai floorplan yang ditawarkan) : Tentu tidak kalah penting adalah memilih tempat yang mudah dilihat dan punya traffict yang bagus, pertimbangkan siapa yang menjadi tetangga kita, agar tercipta mutual benefit.

4. Perencanaan design booth : Dengan tujuan yang sangat jelas, tentu bisa direalisasikan pada design booth yang mendukung tercapainya tujuan tersebut, disamping tentu saja faktor keindahan, kenyamanan dan efektifitas perlu diperhitungkan.

5. Perencanaan anggaran (biaya ruang pameran, biaya peralatan, biaya tenaga kerja dan biaya tidak langsung lainnya) : Anggaran menjadi hal yang penting dipertimbangkan, perhitungkan secara cermat cost and benefitnya.

6. Penentuan Program yang akan dilaksanakan : Membuat program selama pelaksanaan pameran akan menjadikan pameran lebih efektif, pastikan semua program dilaksanakan tetap waktu dan tepat sasaran

7. Pemilihan Person In Charge dan staff  : Semua perencanaan hanya akan berjalan bila pemilihan PIC (Person in Charge) sesuai dengan kualifikasi dan kapasitasnya. Job description harus jelas bagi semua team pendukung. Pastikan juga jumlah team yang memadai dan kemampuan berkomunikasi yang baik bagi team yang berhadapan langsung dengan pengunjung.

8. Persiapan Marketing tools dan materi pendukung : Banyak sarana yang diperlukan pada event pameran seperti banner, brosure, video, slide proyektor, kartu nama dll yang detail dipersiapkan untuk memperlancar semua program. Siapkan juga buku tamu atau tempat kartu nama pengunjung agar bisa kita ketahui data base pengunjung untuk bahan follow up setelah pameran berakhir.

9. Display yang menarik : Letakkan semua marketing tool atau materi pendukung lainnya dengan display yang menarik, rapih, mudah dilihat dan mengundang minat pengunjung.

10. Layout yang nyaman :  Dalam pameran franchise karena yang akan kita tawarkan adalah sebuah sistem bisnis, tentu saja dibutuhkan tempat yang nyaman bagi kita dan pengunjung saat memberikan penjelasan atau melakukan presentasi.

Bagi pelaku usaha yang belum siap memasarkan bisnisnya dan memaksakan diri mengikuti pameran , biasanya pameran bisa menjadi bumerang. Peminat bisnis yang tiba-tiba membludak dan mendesak menunggu persetujuan , biasanya menjadi godaan karena yang terbayang adalah mendapatkan dana dimuka yang cukup menggiurkan, namun perlu disadari bahwa masalah yang sebenarnya baru akan timbul sejak perjanjian franchise ditandatangani sampai perjanjian berakhir ( minimal 5 tahun kedepan). Tidak heran banyak bisnis franchise yang timbul tenggelam dalam waktu yang sangat singkat karena karena ketidaksiapan tersebut. Hindarilah situasi seperti itu.

Banyaknya event pameran dan  banyaknya peserta pameran menjadi sebuah kesempatan bagi pengunjung  yang memang ingin melihat, memilih dan menentukan sebuah bisnis untuk dijalankan. Namun selayaknya kita berbelanja, apalagi ini sebuah bisnis, tentu saja perlu kejelian dan kehati-hatian dalam memilih, dapatkan informasi yang lengkap dan detai untuk bisnis yang diminati.

Berikut ini adalah tips bagi pengunjung yang ingin memilih usaha franchise :

  1. Pilih jenis usaha yang sesuai  minat (passion) : Menjalankan usaha yang sesuai dengan minatnya akan sangat membantu karena dijalankan dengan rasa senang dan motivasi yang lebih.
  2. Pertimbangkan investasi yang paling nyaman, sesuai dengan kemampuan.
  3. Kenali Track Record / Reputasi Franchisor  : Gali informasi sebanyak-banyaknya mulai dari berapa lama bisnisnya sudah dijalankan, berapa jumlah outletnya, bagaimana perkembangannya, bagaimana program trainingnya, apa supportnya , apa program brandingnya, bagaimana research & developmentnya dll. Jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan.
  4. Teliti prospek pasar/market/customer : Pastikan franchisor bisa menjelaskan siapa target market bisnisnya, berapa besar dan berapa lama trend bisnisnya bisa bertahan.
  5. Buat analisis keuangan (ROI / Payback) : Setelah mendapatkan informasi yang detail, ada baiknya coba buat analisa keuangan untuk memperoleh gambaran apakah bisnis yang diminati feasible atau tidak.
  6. Cari informasi dari Franchisee yang telah ada : Lakukan pengamatan sendiri pada outlet yang telah ada, bila memungkinkan mendapatkan informasi langsung dari franchiseenya.
  7. Pelajari isi Perjanjian (hak & kewajiban para pihak) : Pelajari isi perjanjian secara seksama pasal per pasal, minta waktu yang cukup untuk mempelajarinya, bila diperlukan minta pendapat dari konsultan hukum. Lakukan diskusi dengan franchisor bila ada hal-2 yang perlu penjelasan detail dan samakan persepsi. Berhati-hati diawal sebelum menandatangani perjanjian akan membantu terhindar dari masalah dikemudian hari.
  8. Franchisor yang berpengalaman lebih memberikan keyakinan bagi franchiseenya karena pengalaman itu yang dibagikan dan dijadikan panduan bagi penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi di dalam menjalankan bisnisnya (franchisor mampu menjadi guru bagi franchiseenya)

Dalam sebuah event  pameran franchise,banyak pihak yang terlibat didalamnya seperti Event Organizer, Pemilik Usaha franchise, Kontraktor, Konsultan, Asosiasi, Media, bidang usaha pendukung lainnya dan tentu calon pengunjung itu sendiri yang semuanya punya tujuan dan target masing-masing.  Dalam event ini masing-masing pihak bisa saling memanfaatkan situasi, saling bersinergi, saling bersosialisasi menciptakan networking dan tidak tertutup kemungkinan munculnya ide-ide baru serta kerjasama usaha yang saling menguntungkan.

Ada Asosiasi dan konsultan yang  terkait dengan event pameran franchise dimana para pengunjung dan juga peserta bisa memanfaatkan moment ini untuk berkonsultasi, bertanya jawab, berbagi dan menjelaskan bagaimana memilih usaha franchise dan atau bagaimana menjadi pengusaha franchise yang baik.  Dalam event pameran sering juga ada Seminar, Talkshow, Sharing forum atau Business Matching yang jangan sampai dilewatkan. Semua kegiatan itu lebih bertujuan memberikan pemahaman yang jelas pada para franchisor , franchisee dan pengunjung pada umumnya mengenai seluk beluk berbisnis dengan franchising agar dalam menjalankan bisnisnya agar selalu on the track dan tidak menyalahi peraturan dan ketentuan yang berlaku. Selamat berpameran

Salam,

Evi Diah Puspitawati                                                                        

Associate Consultant

International Franchise Business Management

Kantor Konsultan Franchise
Menara KADIN 30th Fl
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 kav. 2-3
Jakarta 12190 – Indonesia
Ph.:(62-21) 52994547 (hunting), Fax. (62-21) 52994599

 

 

Bisnis Franchise – Untung dan Rugi Membeli Bisnis Franchise

October 10, 2012

Bisnis franchise ditanah air mengalami perkembangan yang cukup menjanjikan mulai dari bisnis franchise dengan modal yang cukup murah sampai bisnis franchise yang memerlukan investasi yang cukup besar  semua memiliki minat yang cukup besar , namun perlu kita cermati masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan mana bisnis dengan format franchise dengan bisnis dengan format yang lain seperti bisnis opportunity atau  lisensi

Bisnis franchise dan BO ( Business Opportunity) memiliki hampir kesamaan yang akan sulit dibedakan dan masih saja kita jumpai beberapa bisnis dengan konsep BO menggunakan kata ” Franchise” atau ” Waralaba” pada nama usahanya dan ini tentunya memerlukan pemahaman yang dalam mengenai kedua bidang usaha tersebut dan kita perlu tahu apa saja yang  membedakan kedua jenis usaha tersebut

Bisnis franchise adalah bisnis yang telah memiliki perjalanan bisnis yang cukup panjang   dan biasanya bisnis franchise memberikan dukungan penuh dalam hal pemasaran , menggunakan nama usaha dan jaringan serta umumnya dilandasi dengan perjanjian yang lebih kompleks sedangkan BO (Business Opportunity) adalah bisnis yang perjalanan bisnisnya belum terlalu lama dan biasanya dukungan usahanya tidak seperti bisnis franchise  bisa kita membeli produk darinya atau beli putus saja  dan perjanjiannya tidak terlalu kompleks seperti bisnis franchise

Keuntungan berbisnis franchise antara lain :

  1. Learning Curve yang singkat sehingga anda tidak perlu mengalami jatuh bangun atau kegagalan yang sudah dialami oleh pemberi bisnis franchise
  2. Mengunakan jaringan nama yang sudah terkenal , sehingga memudahkan anda dalam memasarkan produk yang anda pasarkan tanpa memperkenalkan lagi
  3. Mendapatkan bantuan memulai usaha  ,  memulai usaha tentu banyak kendala dibandingkan melanjutkan bisnis yang sudah berjalan  dan sebagai pembeli franchise kita sangat mengharapkan bantuan saat memulai dari si pemberi bisnis franchise yang telah kita beli
  4. Jaminan supplai dan dukungan usaha lain , dengan membeli franchise berarti anda mengharapkan dukungan dari franchisor anda , untuk produk anda akan selalu dijamin kontinyu dalam suplainya disamping dukungan dalam pemasaran , dukungan dalam training karyawan dsb
  5. Kekuatan dalam kegiatan promosi yang efisien , kelebihan dalam bisnis bersama adalah efisiensi dalam promosi secara nasional

Bisnis franchise tidak hanya memberikan keuntungan tetapi ada pula sisi yang merugikan dalam berbisnis franchise antara lain

  1. Bisnis franchise mungkin usaha yang dimiliki sendiri tetapi segala hal kebijakan masih diatur oleh si franchisor mungkin saja kita memiliki banyak ide untuk memajukan usaha tetapi tidak semudah itu dalam menerapkan kebijakan yang telah dibuat oleh si franchisor
  2. Untuk memiliki sistem yang baku ,perlu adanya proses yang lebih birokrasi sebagai contoh jika anda ingin menambah barang dagangan kita tidak boleh semaunya  tentunya kita perlu ijin kepada si franchisornyaapakah kita diberikan ijin untuk bisa kita menambah barang dagangan atau tidak

Walaupun bisnis franchise memiliki keunggulan lebih daripada bisnis yang lainnya tetapi sukses atau gagalnya  kita dalam menjalankan bisnis tergantung keseriusan kita dalam menjalankannya

- Salam Franchise -

 Taufik Hidayat

Pameran Franchise – Membeli Bisnis Franchise di Pameran

September 27, 2012

Pameran franchise  tanggal 14 hingga 16 September 2012 ini di JCC (Jakarta Convention Center), Jakarta, diadakan pameran franchise. Pameran ini termasuk salah satu pameran franchise yang besar di Indonesia, yang diikuti oleh lebih dari 130 pemilik bisnis yang ingin menawarkan duplikasi bisnis mereka untuk dijalankan oleh orang lain.

Pameran franchise dan Seperti biasa, para pengunjung yang memanfaatkan pelayanan free konsultasi kami rata-rata bertanya: “franchise apa yang bagus?”

Hal utama yang perlu dipahami adalah bahwa bisnis yang paling bagus adalah bisnis yang sesuai dengan minat kita. Bukan bisnis yang memberikan keuntungan besar atau keuntungan terbesar. Juga bukan bisnis yang paling populer atau sedang menanjak namanya. Bisnis yang sesuai dengan minat kita akan kita jalankan dengan “hati” (passion), sehingga semua kendala yang mungkin timbul akan terasa sebagai tantangan, bukan sebagai masalah. Sebaliknya, sebuah bisnis yang mudahpun bila tidak sesuai dengan minat akan terasa mengesalkan, walaupun kendala yang timbul hanyalah masalah yang sepele.

Hal lain adalah, bahwa tidak semua peserta pameran franchise adalah perusahaan franchise. Ada juga yang hanya menjual kesempatan berbisnis (di Indonesia umum disebut Business Opportunity atau BO), tetapi bukan  franchise. Bahkan juga ada yang menawarkan bisnis dengan metoda lisensi. Jadi, pahami dulu bisnis yang dipresentasikan.

Kadang kala kita bertanya, bisnis ini franchise atau bukan ya? Yang termudah, tanyakan apakah mereka memiliki STPW (Surat Tanda Pendafaran Waralaba). Tapi ada kalanya surat tersebut masih dalam pengurusan, sehingga tidak dapat ditunjukan. Di Asia, ada dua negara yang pemerintahnya memiliki peraturan franchise untuk melindungi para franchisee, yaitu Indonesia dan Malaysia. Peraturan franchise di Indonesia ada dalam Peraturan Pemerintah No. 42, tahun 2007, tentang waralaba serta Peraturan Mentri Perdagangan No.53 tahun 2012 (baru terbit bulan September ini menggantikan PerMenDag No. 31, tahun 2008). Peraturan ini dapat diunduh di website Kementrian Perdagangan. Ketentuan pemerintah ini dapat dijadikan patokan untuk mengetahui apakah bisnis yang anda incar adalah sistem franchise atau bukan. Ada 6 (enam) ketetapan yang ditentukan, yaitu memiliki ciri khas usaha, terbukti sudah memberikan keuntungan, memiliki prosedur kerja standar secara tertulis, mudah diajarkan dan diaplikasikan, dapat memberikan dukungan yang berkesinambungan, serta Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang sudah terdaftar.

Adapun yang dimaksud dengan memiliki ciri khas, bahwa sebuah bisnis memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan bisnis yang sama. Tanyakan saja apa bedanya bisnis franchisor dengan bisnis sejenis lainnya. Mengenai sudah memberikan keuntungan biasanya bergantung dari reputasi merk bisnis, paling tidak sesuai dengan PP No.42, dijelaskan bahwa bisnis mereka sudah berjalan minimal 5 (lima) tahun (tertera dalam lampiran penjelasan PP No.42 untuk pasal 3b). Tentang standar prosedur kerja yang tertulis adalah manual kerja atau SOP (Standard Operating Procedure), yaitu cara menjalankan bisnis. Hal mudah diajarkan dan diaplikasikan, sangat berhubungan erat dengan jenis dan model pelatihan yang akan diberikan. Yang perlu anda camkan mengenai pelatihan adalah bahwa franchisor tidak mungkin dapat (begitu pula halnya anda dalam menyerap pelatihan) dapat men-transfer semua pengetahuan dan pengalaman sukses yang bertahun-tahun dijalankan dalam waktu singkat. Dibutuhkan pengulangan-pengulangan serta teknik yang baik dalam pelaksanaannya. Inilah sebenarnya salah satu hal yang dimaksudkan dengan dukungan yang berkesinambungan. Hal lain dalam bantuan dan dukungan yang juga penting adalah mengenai metode pemasaran, termasuk didalamnya cara memulai bisnis (start up) dan branding. Tanyakan program-program pemasaran apa saja yang akan dilakukan oleh franchisor guna mendukung brand serta bisnis yang akan anda jalankan. Terakhir adalah mengenai HKI, yaitu brand franchisor yang akan anda pakai. Bila merk dan atau brand mereka belum terdaftar, akan sangat mungkin menimbulkan pertikaian dengan orang lain yang memakai brand atau merk yang sama.

Pada dasarnya, tidak ada bantuan yang sempurna, oleh sebab itu ukurlah kemampuan anda. Hal yang paling ideal adalah bila bantuan mereka dan kemampuan anda dapat bersinergi. Perlu anda ingat, hal terpenting dalam bisnis franchise adalah bahwa franchisee dapat dan mau bekerjasama dengan franchisor.

Beberapa saran tambahan yang ingin kami berbagi ialah, dalam menjalankan bisnis dengan sistem franchise, anda harus bekerja keras. Sukses bisnis tersebut bergantung pada kerja keras anda. Bila anda hanya ingin sekedar berinvestasi, carilah instrumen bisnis yang sesuai, misal deposito, bursa saham, dan lain-lain. Bantuan dari franchisor adalah nasihat bisnis yang terkonsep atas dasar pengalaman sukses mereka.  Bantuan ini akan memperkecil resiko bisnis yang anda jalankan dan mempercepat usaha anda untuk mencapai sukses, sesuai dengan pengalaman sukses franchisor.

Anda mandiri, tapi tidak sendiri.

Selamat berbisnis franchise.

Ir. Royandi Yunus . MBA

International Franchise Business Management

Kantor Konsultan Franchise
Menara KADIN 30th Fl
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 kav. 2-3
Jakarta 12190 – Indonesia
Ph.:(62-21) 52994547 (hunting), Fax. (62-21) 52994599

 

Developing Franchise Document

September 12, 2012

 

 

Next Page »